| "There's only one way to happiness and that is to cease worrying about things which are beyond the powerfull of our will." |
2012/04/08
GoodDay
Cer-pen (Ingga-Rio)
H |
ari mulai gelap, detik demi detik menyaksikan kembalinya sang jingga keperaduan, menghantarkan sejuta lukisan indah sore itu. Angin senja semakin merasuk, jauh dalam kalbu, membuat Ingga terusik dari pandangan mata langit sore dan berjalan kembali pulang setelah matahari benar-benar hilang dari penglihatan.
Ingga... ya, namanya Ingga.
Sejak sore itu Ingga benar-benar karam, dilema, gelisah, gundah gulana dan... ah, semuanya. Ia tak tahu harus melakukan apa jika yang sedang ia fikirkan ini benar-benar harus di hadapi sendiri. Ia yakin tak akan mampu. Tapi apalah daya, semua sudah di depan mata.........
Kemudian hp Ingga berbunyi, tanda panggilan masuk.
“Halo”, angkat Ingga.
“Halo ga”, balas suara di seberang sana.
“Iya yo, gimana?”,
“Ga, kita ketemu di taman belakang kota sekarang ya”,
“Hm iya, bentar lagi otw,”
“Sip hati-hati ya”,
“Iya”.
Deg!! Jantung Ingga seakan ada yang memukuli nya kuat-kuat. Iya berusaha berhenti berfikir keras dan tetap tenang. “Keep calm ga..keep calm!”, batinnya.
Diambilnya kardigen merah marun kesayangannya, lalu bergegas kebawah dan mengambil kunci mobil.
“Bi, aku keluar sebentar ya”,
“Iya non”.
Beberapa menit kemudian jazz merah milik Ingga sudah keluar dari garasi dan melesat ke arah utara, menuju taman belakang kota.
**
Setelah diparkir mobilnya, Ingga celingak celinguk memandang sekitar, berharap Rio yang menelponnya tadi sudah ada ditempat. Rio adalah pacarnya Ingga yang saat ini duduk dikelas 12. Mereka terpaut usia 2 tahun, Ingga lebih muda darinya.
Nihil! Ternyata Rio beluym ada di tempat. Wajar... keluh hati Ingga, Rio memang selalu ngaret. Ingga berjalan ke ujung taman ini, tempat biasa ia duduk bersama Rio dan melihat keramaian kota dari tempat ini. Semua terlihat kecil, karena tempat ini berada di permukaan tinggi, semacam perbukitan. Indah, sejuk, angin sepoy-sepoy selalu menghampiri tempat ini. Ya! Tempat yang strategis.
Jam menunjukkan angka 4:47 sore, Ingga telah menunggu selama 20 menit.
Bisu. Kembali Ingga teringat akan yang difikirkannya keras-keras sebelum berangkat tadi. Apa yang akan disampaikan Rio ketika sudah disini nanti? Apakah kabar baik, atau.. kabar buruk? Ah.. bukan kabar buruk, itu sebenarnya kabar baik yang hanya saja Ingga belum siap menerimanya menjadi kabar baik. Tapi, bagaimana jika ia memang harus dipaksa siap menerima kabar itu? Ah, entahlah. Ingga hanya bisa menerka-nerka untuk saat ini. Ia kembali menikmati udara yang di hirupnya perlahan sebagai tanda penuh harapan. Kembali menikmati deru angin yang menggerak-gerakkan rambut se-bahu-nya itu sejak tadi.
“DORRR!!”
Ingga tersentak kaget, dilihatnya kebelakang dan didapati Rio yang mengenakan kaus putih saat itu tengah memegangi badannya yang hampir jatuh karena kaget tadi.
“Ihh Rio suka gitu ih! Kalo aku antungan gimana? Hah?!”, omel Ingga
“Ya kalo kamu jantungan aku bersedia kok kasih jantung aku,” gombal Rio sambil cengar cengir
“Ah resek! Gombal wuuuu!”, kata Ingga sambil mencibir
“Kalo gak gombal, gak cinta! Hahaha”, kata Rio sampai hampir tertawa lebar
“Kamu tuh ya..ih!”, Ingga manyun sambil memukuli bahu Rio
“Eh iya iya ampun ampun”.
Suasana kembali hening, Rio duduk disebelah Ingga menghadap kecilnya kota dari kejauhan. Mereka larut dalam buaian angin sepoy-sepoy sore itu.
“Eh iya yo, hasilnya udah keluar?”, kata Ingga memecah keheningan.
Rio menoleh ke arah Ingga sejenak kemudian kembali menghadap kota.
“Udah ga”, jawab Rio lirih
“Ng.. terus? Gimana?”, tanya Ingga penasaran
“Aku.. a..a..ak...aku...”, bata Rio
“Kamu lolos ngga?”, tanya Ingga semakin penasaran
“Aku... AKU LOLOS! INGGAAAA AKU LOLOSSS! HAHAHAHA”, sekejap tawa Rio memecah. Dia terlalu gembira setelah berhasil mendapatkan beasiswa untuk kuliah kedokteran di Amerika. Ini adalah impiannya dari kecil. Perjuangannya untuk selalu menduduki paralel 1 program IPA disekolahnya ini tidak sia-sia. Tapi... tak tahukah Rio tentang perasaan Ingga saat ini?
“Yang bener?”, Ingga mencoba berucap.
“Iya ga, aku seneeeeeeeng banget!”, kata Rio sambil merangkul Ingga.
“Oh iya iya, selamat deh”, kata Ingga sebenarnya kecewa.
Inilah yang ia tidak ingin dengar dari Rio. Ingga benar-benar harus dipaksa untuk menerima itu menjadi kabar baik. Seharusnya ia turut senang karena ini impian Rio dan segera menjadi nyata. Tapi di sisi lain, berat! Sungguh berat. Rio akan kuliah diluar negeri dan ini jelas tidak mudah. Kurang lebih 4 tahun dia tidak akan bertemu Rio lagi. Bukan waktu yang sebentar. Bagaimana Ingga harus mengubur dalam-dalam rindunya nanti.
Mereka memang baru menjalani pacaran selama 4 bulan, tapi sungguh untuk berpisah begitu sulit. Canda, tawa, sedih, tangis bersama yang mereka rasain selama 4 bulan itu nggak bakal bisa dirasain lagi untuk 4 tahun kedepan. Tak ada lagi Rio yang selalu menelponnya mendadak, tak ada lagi tunggu untuk Rio yang selalu ngaret, tak ada lagi Rio yang menyediakan sejuta gombalan ketika mereka bertemu, tak ada lagi Rio yang selalu bilang “nanti aku kasih jantung aku”, tak ada lagi Rio yang saat ini duduk di samping Ingga.. di tempat ini, tak ada lagi Rio yang merangkul nya seperti saat sekarang ini.
Mata Ingga berkaca.
“Kamu kenapa?”, tanya Rio
Kaku, Ingga tak menjawab. Dia tak ingin jadi orang munafik yang sok sok tegar, kuat, dalam keadaan seperti ini. Dia hanya mengikuti apa yang hatinya sedang rasakan.
“Ingga..”, Rio memegang wajah Ingga
“Yo, aku gak mau pisah sama kamu”, air bening di pelupuk tak dapat di bendung lagi, perlahan turun dan membasahi pipi Ingga.
“Ingga, aku kesana untuk belajar. Untuk masa depan. Untuk kamu juga. Tolong jangan buat aku semakin berat karena keadaan kamu sekarang. Aku sayang sama kamu, aku bakal jaga itu. Kamu tinggal kasih kepercayaan sama semangat aja buat aku disana nanti”, Rio semakin meyakinkan Ingga. “Ga, denger gue. Raga kita emang berpisah, tapi hati kita enggak”.
“Aku sayang banget ga sama kamu”, lirih Ingga akhirnya.
“Iya aku juga, lebih dari apa yang kamu rasain ke aku. Ini emang berat, tapi aku janji setelah 4 tahun nanti aku pulang dan nemuin kamu lagi, disini.. di tempat ini. Aku janji..”.
Dekap hangat Rio kini membuat tangisan Ingga semakin terasa dalam. Ntahlah, kenapa air mata Ingga belum juga reda. Jauh dalam lubuk hatinya masih bersanggah. Ini bukan masalah janji, tapi hati....
*abis*
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Gimana cerpen gue? Kasi komen ya abis baca, terus komentarin aja kurang nya apa. Dan semoga tidak 'hawe' ini cerpen bakal gue kembangin jadiin novel huahahaha amiiiin =)) Thank for reading, guys!!
Subscribe to:
Comments (Atom)