Waktu lagi buka-buka old folder di laptop lama, aku nemuin ini. Tertera dirinciannya tulisan ini dibuat tahun 2012. I really forgot what I've ever wrote like.. seriously am I wrote this? Lol. Biasa aja, tapi emang beneran lupa. Waktu itu aku memang suka dengan hal-hal berbau senja (sekarang juga masih), makanya tiap nulis selalu ada senja atau sejenisnya. Yang ini judul dokumennya sih tugas cerpen bahasa inggris tapi ketika dibuka.. itu ngga ada English-nya sama sekali hahaha. Bahkan aku lupa alur-nya ini cerpen gimana ckck. But whatever, I need to post this :p Just check this out.
------------------------------
Senja datang menghempas langit. Awan kelam berarak pelan. Suara klakson mobil mengaum dari kejauhan. Sayup-sayup suara adzan mulai membisik telinga. Aku tau ini saatnya kembali ke suatu tempat yang bagi kebanyakan orang adalah tempat paling meneduhkan, namun bagiku itu adalah neraka duniaku, rumah. Namun kakiku tetap saja tak mau beranjak dari tempat penuh kenangan ini. Bayangan akan kemarahan orang-orang rumah atau lebih pantas disebut "malaikat malik penjaga pintu neraka," tak mampu membuat mataku beralih dari riak-riak air yang bersenandung kecil di bawah sana. Aku larut dalam lamunan.
Aku menapakkan kakiku di atas semen pembatas yang mendasari pagar jembatan ini agar wajahku sedikit lebih banyak terhampar angin senja. Kupejamkan mataku perlahan sambil menarik napas dalam-dalam. Sunyi. Sepi. Sejuk. Dingin, lebih tepatnya. Semua terasa dingin sejak kau tak lagi di sisiku. Kehangatan yang dulu selalu kau berikan padaku, kini telah sirna. Tak ada lagi tatapan, genggaman, senyuman, dekapan dan kecupan hangat itu. Semuanya terasa begitu berbeda. Kecuali jembatan ini. Ya, aku masih bisa merasakan kehadiranmu jika aku berada di sini. Aku masih bisa merasakan kehangatan yang dulu selalu kau berikan kepadaku, sebelum akhirnya kini semua menjadi "dingin".
"Hei...."
Ah, sapa itu masih
terdengar jelas di telingaku. Entah sudah berapa lama aku tak mendengarnya,
tapi aku masih saja bisa merasakannya. Kenangan itu satu per satu kembali
bergelayut dalam gumpalan otakku.
"Apa yang kamu
lakukan di sini?"
Aku terhenyak. Apa itu
suaramu? Aku membuka mataku dan menoleh. Mataku tak berhenti mengerjap ketika
mendapatimu berdiri tepat di sampingku.
"Kamu...."
Ujarku, masih dengan perasaan tak percaya.
Kau tersenyum
menatapku. Senyuman hangat itu kembali. Matamu yang teduh seolah mengisyaratkan
pertanyaan, "Kenapa?"
"Ini beneran
kamu, Vin?" Tanyaku, masih dengan mulut ternganga.
"Iya,"
jawabmu singkat, masih dengan guratan senyum khasmu.
"Ini bukan
bayangan kamu doang kan?"
Kau menjawab dalam
diam, kemudian mengalihkan pandanganmu lurus ke depan, menatap langit senja.
Aku menatapmu dalam-dalam, meneliti sekujur tubuhmu, kalau-kalau saja ternyata
ini bukanlah kamu.
"Kenapa kamu
melihat aku seperti itu? Ada yang salah denganku?" Suaramu kembali
menggema dalam telingaku, namun tatapanmu tetap bergeming.
"Kamu
bukannyaaaa........." Kalimatku tergantung begitu saja.
Kau menoleh, matamu
menyorot tepat di bola mataku, membuatku sedikit terhenyak. "Apa?"
Kita terdiam sejenak. "Kamu gak percaya ini aku?"
Kau berbalik,
menggenggam kedua tanganku kuat-kuat. Sesuatu yang dulu sering kau lakukan
padaku. Sesuatu yang sangat ingin aku rasakan kembali. Matamu menatapku lekat
namun hangat.
Aku terdiam sejenak,
dan kemudian kembali bersuara, "Ya! Aku percaya sama kamu, Vin!"
Suaraku bergetar. "Aku gak percaya sama apa yang orang-orang katakan. Aku
gak percaya kalo kamu udah mati!!!" Mataku nyaris berair andai saja tangan
hangatmu tak lekas menyekanya.
"Mereka cuma mau
rebut kebahagiaan aku, Vin, aku tau itu! Mereka gak suka liat aku bahagia sama
kamu!!" Air mataku mengalir deras, tangan hangatmu merambah pipiku. Kita
saling menatap, larut dalam kehangatan.
Kau kembali berbalik,
menatap langit yang kini hampir pantas disebut malam.
"Jadi... Kamu....
Ke mana aja selama ini?" Tanyaku terbata, masih dalam isak tangis.
"Aku gak ke
mana-mana kok, aku tetap di hatimu," jawabmu dingin, tak seperti biasanya.
"Tapi.... Kenapa
beberapa minggu ini aku gak pernah melihat kamu lagi di jembatan ini?"
"Aku cuma muak
sama kehidupan aku. Aku pengen mencari kehidupan yang lain."
"Di mana?"
Kau terdiam sejenak,
dan kembali berujar, "Kamu beneran pengen tau ya?"
Aku mengangguk pelan
seraya menunduk.
"Kenapa?"
"Karena aku juga
muak sama kehidupan aku."
"Kenapa?"
Kami diam dalam
kesunyian.
"Kenapa kamu muak
dengan kehidupan kamu? Setahu aku, kehidupan kamu sangat sempurna, tak
sepertiku."
"Mungkin di
matamu hidup aku itu sempurna, tapi sebenarnya tidak."
"Kenapa?"
"Cukup, Vin. Kamu
gak perlu tahu kehidupan aku yang sebenarnya. Aku gak mau menangisi kehidupanku
di hadapanmu. Cukuplah kamu menjadi penyebab hadirnya senyum di bibirku."
"Dulu kamu boleh
saja menutupi semua itu dariku. Tapi kini, tanpa kau beritahu pun, aku sudah
tahu."
Aku tersentak, sontak
menatapnya yang sejengkal lebih tinggi dariku. "Dari mana kamu tau?"
"Sudahlah, nanti
kamu juga akan mengetahuinya. Kau akan tahu dari mana aku mengetahui cerita
kehidupanmu."
Aku menatapnya dengan
tatapan aneh.
"Kamu gak perlu
bingung. Sekarang kamu cuma punya dua pilihan."
"Apa maksud
kamu?"
"Apa kamu masih
mau melanjutkan hidup yang penuh tekanan ini, atau kau ingin ikut denganku
menemui kehidupan yang baru?"
"Kenapa kamu
menyuruh aku untuk memilihnya? Kehidupan apa yang kamu maksud?"
"Aku berharap
kamu mau ikut denganku. Aku janji, aku tidak akan membawamu ke mana-mana. Aku
hanya membawamu keluar dari kehidupanmu saat ini. Itu kan yang kamu inginkan
selama ini?"
"Dari mana kamu
tau? Apa aku pernah cerita tentang hal ini padamu?"
"Sudah kubilang,
nanti kau juga akan mengetahuinya."
"Apa jika aku
ikut denganmu, berarti aku harus meninggalkan sahabat-sahabatku?"
"Tidak. Kalian
bisa tetap bersama. Kamu hanya akan berpisah dengan orang-orang yang tak kamu
harapkan hadir dalam kehidupanmu."
"Kamu bukan
berbicara tentang kematian kan?"
Kau menghela napas
sejenak. "Kalau aku berbicara tentang kematian, kau pasti akan berpisah
dengan sahabat-sahabatmu, bukan?"
"Tapi kenapa gaya
bicaramu begitu misterius?"
"Tak usah banyak
tanya. Sebentar lagi aku harus pergi. Mungkin akan lebih lama dari yang
sebelumnya."
"Ke mana? Sampai
kapan? Kamu pasti akan kembali kan?"
Kau tak menjawab.
"Hey, kenapa kamu
diam?"
Wajahmu menoleh, menatap
tepat di mataku. "Jadi kau mau ikut atau tidak?"
Aku larut dalam
bimbang.
"Semua keputusan
ada di tanganmu. Jika kau ingin tetap di sini, sebentar lagi kau pasti akan
kembali ke "neraka dunia"mu itu, tapi jika kau ikut denganku, kau
tidak akan pernah menemui mereka lagi."
Aku mengangkat
wajahku, menatap tepat di matamu. "Ya, aku ikut denganmu."
Kau menengadahkan
telapak tanganmu, aku meraihnya. Hari sudah malam, tak sepantasnya sepasang
remaja ini menghabiskan sisa waktu di jembatan. Ya, aku akan pulang. Tapi kali
ini, aku bukan pulang ke "neraka dunia" ku, tapi aku ikut bersamamu.
Entah akan ke mana kau membawaku, yang pasti aku muak dengan hidupku, aku ingin
mencari kehidupan yang baru, yang hanya ada kamu, dan sahabat-sahabatku. Yang pasti
aku tau, kau tak berbicara tentang kematian. Kabut dingin menerpa wajahku.
***
Sinar mentari menusuk
kelopak mataku, silau aku dibuatnya. Aku membuka mataku perlahan, sudah siang.
Oh tidak!! Aku akan terlambat sekolah!!
Masih dalam keadaan
setengah sadar, aku bangun dari tidurku, tapi.... Di mana ini? Tidak, aku tidak
di kamarku. Kuputar memoriku, mencoba mengat apa yang terjadi semalam. Ya,
Kelvin! Di mana dia? Tempat apa ini? Kenapa semuanya tertutup kabut?
Aku meraba-raba,
mencoba menembus kabut, hingga akhirnya di seberang sana tampak daun-daun
kehijauan. Taman. Ya, taman yang indah. Apa iya ini kehidupan baru yang Kelvin
maksud? Tapi, di mana dia sekarang?
Aku mencoba menyusuri
taman itu. Ah, ternyata di sini memang nikmat. Yang ada hanyalah kebun bunga
yang bermekaran, kupu-kupu yang berayun-ayun mencari makanannya, air terjun
yang bergemuruh namun indah, semuanya membuatku merasakan kesejukkan yang tak
pernah kurasakan sebelumnya.
Aku terus menyusuri
tempat asing itu, sampai akhirnya tiba di suatu tempat yang kurasa akrab
denganku. Di mana ini? Sepertinya aku kenal tempat ini.
Kabut semakin menipis,
sampai akhirnya kusadari tempat apa ini. Sungai? Kenapa ada sungai di sini?
Kenapa aku kembali ke sini? Kenapa aku kembali ke kehidupanku yang dulu?
Aku berjalan ke tepi
sungai, untuk mencari Kelvin sebenarnya. Sudah sering aku bermain ke sungai ini
bersama Kelvin, tapi tak pernah kutemukan taman macam ini.
Kabut tipis
melambai-lambai di hadapanku. Aku menajamkan mataku ke sebrang jembatan. Entah
kenapa aku merasa ada yang asing di sana. Apa itu Kelvin?
Aku menghelang kabut
yang menutupi pandanganku, menerobosnya untuk menyebrangi jembatan, hingga
akhirnya sosok yang kulihat di pinggir sungai itu semakin jelas. Ya! Itu
Kelvin! Aku mempercepat langkahku menuju jembatan, tak sabar menemuinya dan
mempertanyakan semua ini.
Tapi, tunggu.... Dia
tak sendiri. Bersama siapa dia? Kenapa orang-orang semakin ramai?
"Kelvin!"
Aku mencoba memanggil namanya, namun dia tak menoleh.
Rasa ingin tahuku
semakin menjadi-jadi. Aku berlari menyusuri jembatan, menuju tempat di samping
Kelvin.
Aku melihat
orang-orang itu. Apa yang ada di balik kain kuning itu? Kenapa Kelvin menangis?
"Kelvin...."
Aku kembali mencoba memanggil namanya, namun dia tetap tak menyahut. Dia justru
menyentuh kain kuning itu dengan tangan bergetar, dan perlahan menyibaknya,
kemudian mendekatkan wajahnya ke sesuatu di balik kain kuning itu. Aku tak
dapat melihatnya dengan jelas. Hingga akhirnya aku menyadari. Dengan tubuh yang
bergetar, aku menatap sesuatu yang ditutupi kain kuning itu, sesuatu yang baru
dicium oleh Kelvin itu, sesuatu yang.... Ah, apa kau tau? Itu jasadku!! Hatiku
bergidik. Aku menatap sekujur tubuhku ini. Jadi, siapa aku? Apa aku sudah mati?
Atau ini hanya mimpi? Di mana sahabat-sahabatku yang Kelvin janjikan? Siapa Kelvin yang semalam hadir itu? Bukankah
Kelvin yang sudah mati?
Semuanya tampak tak
jelas, sosok Kelvin, sosok jasad, dan sosok orang-orang itu terasa semakin jauh
dan semakin jauh dariku, hingga akhirnya aku menyadari tubuhku meringan,
terbang di bawa angin, entah sampai ke mana.
-------------------------- 2012
No comments:
Post a Comment